Kamis, 08 Oktober 2015

ASAP OI ASAP BILO KAU LONYAP

Belakangan ini wak ongah membaco di koran dan menonton di tipi, banyak memberitokan tontang bencana asap yang tajadi di negeri yang dicintainya ini. Bahkan, sekarang negeri ini sudah berhasil mengekspor asapnyo sampai ke negara tetangga seperti Malaysia, Singapura, dan Thailand. Sayangnyo kito tak dapat untung dari ekspor asap ni seperti halnyo ekspor TKI. Alih-alih dapat untung, malah banyak masyarakat yang betambah sakitnyo, banyak anak-anak yang pore sekolahnyo, dan banyak lagi kerugian laennyo karono asap ni ha. Ditambah lagi dana untuk memadamkannyo. #Bayaadah.

Dari berbagai sumber yang diikuti wak ongah, darurat asap ni ado hubungannyo samo pembakaran hutan yang ondak dikelola menjadi perkebunan, terutama hutan-hutan di sumatera dan kalimantan, karono pembukaan lahan dengan caro dibakar lobih murah ketimbang caro yang laen. Menurut wak ongah pendapat ini botul jugo, mengingat belakangan ini kan sudah agak soringnyo hujan, cuacapun tak pala panas-panas kali, tapi mengapo pulak asap tu tak hilang-hilang?. Berartikan ado yang membuatnyo tebakar. Asal padam, dibakar lagi, makonyo bencana asapni tak selose. #Bayaadah.

Beberapo hari nan lewat, wak ongah menonton tipi semacam acara invenstigasi begitu. Di acara tu diwawancarai orang yang menurut pengakuannyo melakukan pembakaran hutan. Bahkan sehari dio bisa membakar sampe enam tempat tergantung orderan dan upah yang diterimonyo. Wak ongah waktu itu bingung, kalo wartawan bisa mewawancarai orang yang membakar hutan, kenapo aparat tak bisa menangkapnyo? Sementara gara-gara ulahnyo banyak nyawo manusio laen  yang terancam hidupnyo karono menghirup asap. Berartikan orang yang membakar hutan tu sedang melakukan "pembunuhan" berencana kepada penduduk, terutamo yang daerahnyo dokat-dokat samo titik kebakaran semisal Riau dan Banjarmasin. Torus si wartawan yang menutupi narasumbernyo itu apo tak bisa termasuk bekerjasama dalam melakukan kejahatan tu? Tapi hal yang lucu dalam pikiran wak ongah adalah ternyata wartawan lobih jago mencari pembakar hutan tu daripada aparat. #Bayaadah.

Menurut pendapat wak ongah lagi, pemerintah pusat pun tekosan lambat turun tangan membantu pemerintah daerah yang daerahnyo terdampak paling parah kabut asap. Pemerintah daerah dibiarkan bejibaku sendiri dengan personil sadikit, kemampuan tabatas, alat yang tak memadai dan dana yang tabatas jugo. Pemeritah pusat tak jugo menetapkan bencana asap ni sebagai bencana nasional. Belakangan pemerintah pusat baru sibuk meminta bantuan ke negara lain untuk menyelosekan masalah asap ni. Jadilah negeri ini negeri yang meminta-minta, sudah minta diutangi, minta pula dibantu memadamkan api. #Bayaadah

Tapi, bencana asap ni menimbulkan kreativitas jugo. Ado yang demo dengan cara unik memasangkan masker ke patung selamat datang di kotanyo, ado jugo yang membuat surat elektronik untuk presiden sampe video yang di unggah ke youtube dan video-video serta poto-poto yang berseliweran di media sosial yang dishooting mereka-mereka yang ingin mendapatkan perhatian serius dari pemerintah terhadap bencana asap ni. Menurut wak ongah, video-video dan poto-poto itu sangat menggugah raso ibo di hati melihat gambaran yang sebenarnya yang jauh lebih parah dari yang diberitakan di tipi-tipi. Jadi, kalo ado yang tak prihatin lagi dengan keadaan ni, mungkin dio kesoringan nonton tipi yang itu-itu sajo. #Bayaadah.

Itulah yo pendapat wak ongah tontang kabut asap ni. Moh kito jago hutan kito agar tak ado orang yang sembarangan membakarnyo. Kito jugo berdo'a semoga sudaro-sudaro kito yang kono dampak langsung dari asap ni diberikan kesabaran dan kekuatan untuk menyuarokan aspirasi orang tu. Moh kito jugo besuaro lewat apo sajo, facebook, blog, instagram biar tambah kuat suaro orang tu. Jangan sonyap biar copat asap ni lonyap. #Bayaadah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar